Jumat, 09 Januari 2015

Manusia dan Penderitaan (Tugas ilmu budaya dasar 2)



KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayahnya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga saya dapat menyelesaikan makalah mata kuliah ILMU BUDAYA DASAR yang berjudul “MANUSIA DAN PENDERITAAN” .
Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Sarwoko selaku dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Budaya Dasar
Akhirnya saya menyadari  bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam makalah ini. Maka dari itu saya mengharapkan kritik saran dari bapak Sarwoko demi kesempurnaan makalah ini.
Bekasi,Desember 2014
Penulis

PEMBAHASAN
MANUSIA DAN PENDERITAAN

1.       Makna Penderitaan
Penderitaan adalah ungkapan perasaan sakit yang dialami manusia dalam kehidupan. Penderitaan bersumber pada unsure”rasa” dalam diri manusia. Menurut asal katanya, penderitaan  berasal dari kata “derita” artinya perasaan tidak enak, perasaan tidak menyenangkan, perasaan sakit. Penderitaan artinya menanggung perasaan tidak enak, menanggung perasaan tidak menyenangkan, menanggung perasaan sakit. Penderitaan dapat mengenai fisik dan mental. Karena penderitaan seseorang. Berat ringan penderitaan dapat dilihat pada kenyataan yang dialami seseorang, yaitu akibat yang timbul pada badan atau jiwa penderita.

Penderitaan fisik adalah penderitaan yang dialami badan seseorang, misalnya penyiksaan karena perbuatan orang lain, muntaber karena penyakit menular, korban gempa karena bencana alam, ataupun siksa Tuhan karena azab. Penderitaan mental adalah penderitaan yang dialami jiwa seseorang misalnya, stres berat karena pekerjaan, goncang cinta karena kegagalan cinta, dan sakit jiwa karena ancaman berat. Penderitaan fisik dan mental kedua-duanya harus bersifat unik, yaitu menyentuh nilai-nilai kemanusiaan yang menentukan perjalanan hidup seseorang. Penderitaan fisik dan mental keduanya saling mempengaruhi. Walaupun seseorang hanya mengalami penderitaan fisik, pasti ada pengaruhnya terhadap jiwanya. Walaupun seseorang hanya mengalami penderitaan mental, pasti ada pengaruhnya terhadap badan.



Penderitaan dapat diuraikan dalam kitab suci Al-Quran. Hal itu misalnya dalam surat Al-Balad ayat 4 yang dinyatakan “manusia ialah makhluk yang hidupnya perjuangan”. Ayat tersebut diartikan, bahwa manusia bekerja keras untuk dapat melangsungkan hidupnya. Untuk kelangsungan hidup ini manusia harus menghadapi alam, menghadapi masyarakat sekelilingnya, dan tidak boleh lupa takwa kepada Tuhan. Apabila manusia melalaikan salah satu tersebut atau tidak sungguh sungguh menghadapinya, maka akibatnya manusia akan menderita.

Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat dan juga ada yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatun penderitaan merupakan energy untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagi langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.

Berbagai Kasus penderitaan dalam kehidupan. Misalnya, Bila orang malas bekerja tentu ia akan menderita hidupnya, Dan jika orang itu malas melakukan ibadah atau melakukan perbuatan yang dilarang oleh Tuhannya maka hidupnya pun akan menderita , dan tidaknya menderita didunia maka akan menderitaa diakhirat (kehidupan setelah mati) kelak.

Penderitaan tak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Karena setiap orang akan pernah mengalami penderitaan. Nasib malang atau penderitaan dating dan tidak dapat ditolak,  harus menerima apa adanya, kita pasrah kepada Tuhan.

Sejak jaman dahulu kasus penderitaan dituangkan dalam bentuk seni, misalnya seni sastra, seni wayang, seni drama, seni music, dan sebagainya. Penderitaan orang dahulu tidak kalah hebat dibandingkan pada zaman teknologi modern.

Dalam jaman perkembangan teknologi modern ini kasus penderitaan seperti kelaparan, gempa, menjalarnya penyakit, gunung meletus dan sebagainya, dalam waktu singkat tersebar luas keseluruh dunia, sehingga dalam waktu singkat pula rasa simpati dari berbagai penjuru mengakir dalam bentuk berbagai macam sumbangan.

Dengan mempelajari berbagai kasus penderitaan manusia berarti telah mempelajari nilai, sikap, harga diri, ketaatan, kesombongan dan sebagainya. Semua itu sangat bermanfaat untuk memperdalam dan memperluas wawasan, tanggapan bagi yang mempelajarinya.

2.       Penyebab Penderitaan
a.       Perbuatan Buruk Manusia
Penderitaan yang menimpa manusia terjadi karena perbuatan dalam hubungan sesame manusia dan perbuatan dalam hubungan manusia dengan alam lingkungannya. Penderitaan ini dapat juga disebut Nasib Buruk karena perbuatan manusia. Penderitaan manusia karena nasib buruk dapat diperbaiki agar menjadi nasib baik. Dengan kata lain, manusialah yang dapat memperbaiki nasibnya. Jadi, nasib buruk itu penyebabnya adalah manusia dan manusia juga yang memperbaikinya. Nasib  buruk dibedakan atas takdir yang penyebabnya adalah Tuhan dan Tuhan juga yang menetapkan takdir.

1.       Perbuatan Buruk Kepada Orang Lain
Perbuatan buruk manusia merupakan salah satu penyebab manusia lain menderita. Penderitaan yang mereka alami sangat berat, bahkan kematian. Penderitaan berat akibat perbuatan buruk manusia akan meninggalkan noktah hitam yang tidak mungkin dihapus dalam perjalanan hidup penderitanya.

2.       Perbuatan Buruk kepada Alam Lingkungan
Perbuatan buruk manusia pada lingkungan juga menjadi penyebab penderitaan manusia, tetapi sayang manusia tidak mau menyadari perbuatannya itu. Mungkin kesadaran itu baru akan timbul setelah terjadi musibah yang mengakibatkan penderitaan manusia. Contoh: banjir, longsor, dan sebagainya.

b.      Perkawinan, Perceraian, Kematian

1.Kawin Paksa

Penderitaan atas kawin paksa , perceraian atau kehilangan buah hati yang disayangi juga menghiasi kehidupan manusia karena menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Kawin pakasa yang masih terdapat dalam masyarakat merupakan satu diantara sumber penyebab terjadinya penderitaan. Adalah wajar apabila seorang anak pria dan wanita tidak menerima perlakuan orang tua yang memaksanya kawin dengan pasangan yang bukan pujaannya. Kawin paksa tidak pernah didasari oleh rasa sayang, kecuali kebencian, karena itu sifatnya selalu rapuh dan tidak membangkitkan gairah hidup. Akhirnya, perceraianlah yang menjadi ujung tombaknya. Semua perbuatan yang dilakukan tanpa dilandasi kesadaran diri tidak akan menuai manfaat yng hakiki.
2.Perceraian
Perceraian suami istri mengakibatkan penderitaan bagi anak. Bagaimanapun juga perkembangan anak memerlukan asuhan dan bimbingan orang tua sejak dia lahir. Ini adalah nilai-nilai kemanusiaan yang memerlukan penghayatan. Jika terjadi perceraian, kemungkinan anak ikut ibu atau ikut ayahnya.
3.Kematian
Kehilangan buah hati curahan kasih sayang juga menjadi sumber penderitaan manusia. Kematian anak yang disayangi ataupun kematian kekasih yang tercinta merupakan contoh yang banyak terjadi  dalam masyarakat yang menyentuh nilai-nilai kemanusiaan.

3.       Makna Siksaan
Berbicara tentang siksaan, maka terbayang pada ingatan kita tentang dosa dan nerakan dimana manusia akan disiksa, dan akhirnya firman Tuhan dalam kitab suci Al-Quran. Seperti yang diketahui bahwa dalam kitab suci Al-Quran tersebut terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang siksaan.

Bentuk siksaan yang tersebut antara lain ada dalam surat AL-Ankabut ayat 40 yang menyatakan: “Masing-masing bangsa itu kami siksa dengan ancaman siksaan, karena dosa-dosanya. Ada diantaranya kami hujani dengan batu-batu kecil seperti kaum Aad, ada yang diganyang dengan halilintar bergemuruh dahsyat seperti kaum Tsamud, ada pula yang kami benamkan kedalam tanah seperti Qarun,  dan ada pula yang kami tenggelamkan seperti kaum  Nuh. Dengan siksaan itu, Allah tidak menganiaya mereka, namun mereka jugalah yang menganiaya diri mereka sendiri , dengan dosa-dosanya”

Berbicara tentang siksaan terbayang dibenak kita sesuatu yang sangat mengerikan, bahkan mungkin menderikan bulu kuduk kita. Betapa tidak, didalam benak kita terbayang seseorang yang tinggi besar, kokoh dan kuat dengan muka yang seram sedang memegang cemeti yang siap mencabuk kepada orang yang disiksa. Atau orang memegang besi yang sudah dipanaskan ujungnya sampai berwarna merah dan siap ditempelkan ketubuh orang yang disiksa. Semua itu dengan maksud agar orang yang disiksa itu memenuhi permintaan penyiksa atau perbuatan balas dendam.

Siksaan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Setiap manusia pernah atau akan merasakannya. Siksaan juga tidak dapat dipisahkan oleh dosa-dosa manusia. Siksaan yang berhubungan dengan dosa adalah siksaan di Hari Kiamat.

Kita dapat menilai diri kita sendiri, dimana kita berdiri, dimana kita berpihak, dan sejauh mana ketakwaan kita kepada Tuhan.

4.       Makna Rasa Sakit
Rasa sakit adalah rasa yang tidak enak bagi sipenderita. Rasa sakit akibat menderita penyakit, atau sakit. Sakit kepala akibatnya terasa sakit kepalanya (pusing). Sakit hati akibatnya hatinya terasa sakit. Sakit cinta akibatnya hati selalu dirundung rasa ingin bertemu dengan orang yang dicintai, dan lain-lain.

Penyakit atau sakit dapat menimpa setiap makhluk hidup. Kaya miskin, besar kecil, tua muda, bila telah tertimpa , orang bodoh atau pintar , bahkan professor pun tidak dapat menghindarinya.

Rasa sakit atau penyakit tidak dapat dihindari dari kehidupan sehari-hari. Menderita penyakit tidak direncanakan, dating begitu saja, sedangkan manusia hanya dapat berikhtiar menyembuhkan.

Orang merasa sakit, dan karena orang merasa sakit orang itu menderita. Dan penderitaanlah yang dialaminya. Siksaan adalah rangkaian peristiea yang tidak dapat dipisahkan merupakan rentetan sebab akibat.

Rasa banyak hikmahnya, antara lain dapat mendekatkan diri kepada Tuhan, dapat menimbulkan rasa kasihan terhadap penderita, dapat membuka rasa keprihatinan manusia, rasa sosial, dermawan, dan sebagainya.

Tiap rasa sakit atau penyakit pasti ada penyembuhnya atau obat. Hanya tergantung kepada penderita, apa ada usaha atau tidak dalam menyembuhkan penyakitnya. Bagi yang berusaha sungguh-sungguh dengan disertai doa, maka Tuhan akan membantu dan mengambulkan doanya.

5.       Neraka
Neraka sering dihubungkan dengan kematian. Neraka sesudah mati dibahas oleh para agama. Penderitaan dalam hidup yang sering pula dikatakan NERAKA DUNIA.

Berbicara mengenai neraka, maka  tentu kita ingat terhadap dosa. Dan juga terbayang jelas diingatan kita. Tergambar pula ingatan kita suatu rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa.

Sudah jelas bahwa neraka merupakan tempat manusia disiksa karena dosa-dosanya, dan manusia pasti akan mengalami rasa sakit dan penderitaan yang sangat luar biasa melebihi penderitaannya dibumi.

Manusia masuk neraka karena dosa. Oleh karena itu, bila kita bicara tentang neraka tentu akan berkaitan dengan dosa. Dan dosa ialah kesalahan-kesalahan manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak lepas darin kesalahan. Kesalahan itu sengaja atau tidak, tetap salah dan akan mendapatkan hukuman itu sesuai dengan kesalahannya. Siapa yang menghukum tergantung pada kesalahan tersebut.

Selain itu banyak media massa yang mengkomunikasikan penderitaan yang hebat membuat pilu dan haru pembacanya, sehingga banyak orang yang mengulurkan tangan ingin meringankan beban penderitannya sesama.

6.       Sumber Penderitaan
a.       Hakikat Manusia
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk hidup yang memiliki kepribadian yang tersusun dari perpaduan dan saling hubungan dan pengaruh mempengaruhi antara unsur-unsur  jasmani, rohani, dank arena itu penderitaan dapat pula terjadi pada tingkat jasmani maupun rohani.

Jasmani disebut juga sebagai tubuh, badan, jasad, materi, wadah. Jasmani merupakan unsure yang hidup pada pribadi manusia. Didalam jasmani manusia ada dua unsure yang selalu berhubungan, yaitu otak dan panca indera. Didalam otak ada berbagai pusat kemampuan manusia. Panca indera merupakan alat atau jendela atau pintu tubuh manusia sehingga manusia mampu menerima dan menangkap segala sesuatu hal.

Rohani sering disebut dengan istilah lain seperti misalnya jiwa, badan halus, dan mind merupakan unsur yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Dalam kehidupan sehari-hari rohani menjiwai, mendasari, dan memimpin unsur-unsur pribadi manusia.

b.      Dorongan memenuhi kebutuhan sebagai sumber penderitaan
Dalam rangka memenuhi kebutuhan ini mungkin saja terjadi bahwa tujuan, ialah sesuatu dengan yang dikehendaki. Tetapi mungkin pula sesuatu yang diingini itu tidak tercapai. Jika tujuan yang diingini itu tercapai maka yang didapat dan dirasakan adalah kepuasan, kegembiraan atau kesenangan. Jika sebaliknya yang terjadi,  maka yang didapat adalah penyesalan, kesedihan dan penderitaan. Bagaimana kualitas perasaan yang timbul akibat upaya pencapaian tujuan ini, kiranya akan mengikuti skala pencapaian tujuannya. Makin dekat dengan tujuan yang dicapai,makin dalam perasaan kegembiraan yang dirasakan. Makin jauh tujuan yang ingim dicapai maka yang didapat juga makin tipis rasa kegembiraannya.

7.       Pengaruh Penderitaan
a.       Pengaruh Negatif
Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap negative, misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, atau ingin bunuh diri.

b.      Pengaruh Positif
Orang yang mengalami penderitaan mungkin juga akan memperoleh sikap positif dalam dirinya. Sikap positif adalah sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan hanya rangkaian penderitaan, melainkan juaga perjuangan membebaskan diri dari penderitaan. Penderitaan hanyalah bagian dari kehidupan yang dapat member pengalaman memecahkan masalah untuk mencapai esok yang lebih sejahtera. Hidup tanpa penderitaan samalah dengan gelombang datar ditengah lautan. Sikap positif atau optimis biasanya kreatif dan produktif, tidak mudah menyerah pada keadaan.

c.       Penilaian Masyarakat
Apabila sikap negative dan sikap positif dari penderitaan dikomunikasikan kepada masyarakat, masyarakat akan memberikan penilaiannya. Penilaian itu dapat berupa kemauan atau kesediaan untuk mengadakan perubahan nilai-nilai kemanusiaan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan. Nilai-nilai kemanusiaan yang sudah tidak sesuai di tinggalkan dan diganti dengan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih kondusif dengan kondisi masyarakat. Nilai-nilai kemanusiaan yang berupa hambatan-hambatan harus disingkirkan. Berdasarkan uraian dalam pembahasan diatas dapat diinventarisasi nilai-nilai kemanusiaan yang dirasakan sebagai hal yang sudah using, antara lain: kawin paksa, ketidakseimbangan status, fungsi, serta peran suami dan istri dalam keluarga.

8.       Upaya Menghindari Diri dari Penderitaan
Manusia hendaknya percaya dengan mutlak kepada Tuhan yang Maha Esa. Hanya Tuhan lah yang menentukan kehidupan manusia, yang mampu menciptakan keajaiban diluar pikiran manusia, hanya Tuhan lah yang maha kuasa, Maha pengasih dan Maha penyayang.

Manusia hendaknya dalam perjuangan hidup selalu teguh dalam pikiran dan pendirian, waspada dalam membela cita-cita, dan penuh dengan kesadaran lahir dan batin. Orang hendaknya selalu tidak mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan yang tidak sehat.

Manusia hendaknya  giat bekerja untuk  mencapai kebahagiaan baik untuk dirinya sendiri, masyarakat, keluarga, negara dan bangsa. Jadi walaupun diakui bahwa takdir itu ada, manusia harus tetap berikhtiar. Hal ini sesuai pula dengan ajaran agama islam yang mengatakan bahwa “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka sendiri mengubah keadaannya.


Manusia hendaknya selalu mengukur kekuatan diri sendiri dalam upaya memnuhi kebutuhan hidupnya. Orang yang dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup tidak mau mengukur atau tidak mau menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki, maka orang itu akan menjadi badak”hawa nafsunya” sendiri. Orang yang dalam kondisi semacam ini, pikirannya, kehendaknya, dan perasaannya sudah tidak mampu member pertimbangan. Orang seperti ini senntiasa akan terus – menerus mengikuti hawa nafsu tersebut, ia tidak pernah merasa puas, dan ia akan menderita.






SUMBER

Buku Ilmu Budaya Dasar karangan Drs. Joko Tri Prasetya, dkk , penerbit: Rineka Cipta, Jakarta 2013
Buku Ilmu Sosial Budaya Dasar , karangan: Prof. Abdulkadir Muhammad, S.H. , penerbit : PT CITRA ADITYA BAKTI, Bandung 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar