KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat
serta hidayahnya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah mata kuliah ILMU BUDAYA DASAR yang berjudul “MANUSIA DAN
PENDERITAAN” .
Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Bapak Sarwoko selaku dosen pembimbing mata kuliah Ilmu
Budaya Dasar
Akhirnya saya menyadari
bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam makalah ini. Maka dari
itu saya mengharapkan kritik saran dari bapak Sarwoko demi kesempurnaan makalah
ini.
Bekasi,Desember 2014
Penulis
PEMBAHASAN
MANUSIA DAN PENDERITAAN
1. Makna Penderitaan
Penderitaan adalah ungkapan perasaan sakit
yang dialami manusia dalam kehidupan. Penderitaan bersumber pada unsure”rasa”
dalam diri manusia. Menurut asal katanya, penderitaan berasal dari kata “derita” artinya perasaan
tidak enak, perasaan tidak menyenangkan, perasaan sakit. Penderitaan artinya
menanggung perasaan tidak enak, menanggung perasaan tidak menyenangkan, menanggung
perasaan sakit. Penderitaan dapat mengenai fisik dan mental. Karena penderitaan
seseorang. Berat ringan penderitaan dapat dilihat pada kenyataan yang dialami
seseorang, yaitu akibat yang timbul pada badan atau jiwa penderita.
Penderitaan fisik adalah penderitaan yang
dialami badan seseorang, misalnya penyiksaan karena perbuatan orang lain,
muntaber karena penyakit menular, korban gempa karena bencana alam, ataupun
siksa Tuhan karena azab. Penderitaan mental adalah penderitaan yang dialami
jiwa seseorang misalnya, stres berat karena pekerjaan, goncang cinta karena
kegagalan cinta, dan sakit jiwa karena ancaman berat. Penderitaan fisik dan
mental kedua-duanya harus bersifat unik, yaitu menyentuh nilai-nilai
kemanusiaan yang menentukan perjalanan hidup seseorang. Penderitaan fisik dan
mental keduanya saling mempengaruhi. Walaupun seseorang hanya mengalami
penderitaan fisik, pasti ada pengaruhnya terhadap jiwanya. Walaupun seseorang
hanya mengalami penderitaan mental, pasti ada pengaruhnya terhadap badan.
Penderitaan dapat diuraikan dalam kitab
suci Al-Quran. Hal itu misalnya dalam surat Al-Balad ayat 4 yang dinyatakan
“manusia ialah makhluk yang hidupnya perjuangan”. Ayat tersebut diartikan,
bahwa manusia bekerja keras untuk dapat melangsungkan hidupnya. Untuk
kelangsungan hidup ini manusia harus menghadapi alam, menghadapi masyarakat
sekelilingnya, dan tidak boleh lupa takwa kepada Tuhan. Apabila manusia
melalaikan salah satu tersebut atau tidak sungguh sungguh menghadapinya, maka
akibatnya manusia akan menderita.
Penderitaan termasuk realitas dunia dan
manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat dan juga ada
yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat tidaknya intensitas
penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum
tentu penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatun penderitaan merupakan
energy untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagi langkah awal untuk mencapai
kenikmatan dan kebahagiaan.
Berbagai Kasus penderitaan dalam kehidupan.
Misalnya, Bila orang malas bekerja tentu ia akan menderita hidupnya, Dan jika
orang itu malas melakukan ibadah atau melakukan perbuatan yang dilarang oleh
Tuhannya maka hidupnya pun akan menderita , dan tidaknya menderita didunia maka
akan menderitaa diakhirat (kehidupan setelah mati) kelak.
Penderitaan tak dapat dipisahkan dengan
kehidupan manusia. Karena setiap orang akan pernah mengalami penderitaan. Nasib
malang atau penderitaan dating dan tidak dapat ditolak, harus menerima apa adanya, kita pasrah kepada
Tuhan.
Sejak jaman dahulu kasus penderitaan
dituangkan dalam bentuk seni, misalnya seni sastra, seni wayang, seni drama,
seni music, dan sebagainya. Penderitaan orang dahulu tidak kalah hebat
dibandingkan pada zaman teknologi modern.
Dalam jaman perkembangan teknologi modern
ini kasus penderitaan seperti kelaparan, gempa, menjalarnya penyakit, gunung
meletus dan sebagainya, dalam waktu singkat tersebar luas keseluruh dunia,
sehingga dalam waktu singkat pula rasa simpati dari berbagai penjuru mengakir
dalam bentuk berbagai macam sumbangan.
Dengan mempelajari berbagai kasus
penderitaan manusia berarti telah mempelajari nilai, sikap, harga diri,
ketaatan, kesombongan dan sebagainya. Semua itu sangat bermanfaat untuk
memperdalam dan memperluas wawasan, tanggapan bagi yang mempelajarinya.
2. Penyebab Penderitaan
a. Perbuatan Buruk Manusia
Penderitaan yang menimpa manusia terjadi
karena perbuatan dalam hubungan sesame manusia dan perbuatan dalam hubungan
manusia dengan alam lingkungannya. Penderitaan ini dapat juga disebut Nasib
Buruk karena perbuatan manusia. Penderitaan manusia karena nasib buruk dapat
diperbaiki agar menjadi nasib baik. Dengan kata lain, manusialah yang dapat
memperbaiki nasibnya. Jadi, nasib buruk itu penyebabnya adalah manusia dan manusia
juga yang memperbaikinya. Nasib buruk
dibedakan atas takdir yang penyebabnya adalah Tuhan dan Tuhan juga yang
menetapkan takdir.
1. Perbuatan Buruk Kepada Orang Lain
Perbuatan buruk manusia merupakan salah
satu penyebab manusia lain menderita. Penderitaan yang mereka alami sangat
berat, bahkan kematian. Penderitaan berat akibat perbuatan buruk manusia akan
meninggalkan noktah hitam yang tidak mungkin dihapus dalam perjalanan hidup
penderitanya.
2. Perbuatan Buruk kepada Alam Lingkungan
Perbuatan buruk manusia pada lingkungan
juga menjadi penyebab penderitaan manusia, tetapi sayang manusia tidak mau
menyadari perbuatannya itu. Mungkin kesadaran itu baru akan timbul setelah
terjadi musibah yang mengakibatkan penderitaan manusia. Contoh: banjir,
longsor, dan sebagainya.
b. Perkawinan, Perceraian, Kematian
1.Kawin
Paksa
Penderitaan atas kawin paksa , perceraian
atau kehilangan buah hati yang disayangi juga menghiasi kehidupan manusia
karena menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Kawin pakasa yang masih terdapat
dalam masyarakat merupakan satu diantara sumber penyebab terjadinya
penderitaan. Adalah wajar apabila seorang anak pria dan wanita tidak menerima
perlakuan orang tua yang memaksanya kawin dengan pasangan yang bukan pujaannya.
Kawin paksa tidak pernah didasari oleh rasa sayang, kecuali kebencian, karena
itu sifatnya selalu rapuh dan tidak membangkitkan gairah hidup. Akhirnya,
perceraianlah yang menjadi ujung tombaknya. Semua perbuatan yang dilakukan
tanpa dilandasi kesadaran diri tidak akan menuai manfaat yng hakiki.
2.Perceraian
Perceraian suami istri
mengakibatkan penderitaan bagi anak. Bagaimanapun juga perkembangan anak
memerlukan asuhan dan bimbingan orang tua sejak dia lahir. Ini adalah
nilai-nilai kemanusiaan yang memerlukan penghayatan. Jika terjadi perceraian,
kemungkinan anak ikut ibu atau ikut ayahnya.
3.Kematian
Kehilangan buah hati curahan
kasih sayang juga menjadi sumber penderitaan manusia. Kematian anak yang
disayangi ataupun kematian kekasih yang tercinta merupakan contoh yang banyak
terjadi dalam masyarakat yang menyentuh
nilai-nilai kemanusiaan.
3. Makna Siksaan
Berbicara tentang siksaan, maka terbayang
pada ingatan kita tentang dosa dan nerakan dimana manusia akan disiksa, dan
akhirnya firman Tuhan dalam kitab suci Al-Quran. Seperti yang diketahui bahwa
dalam kitab suci Al-Quran tersebut terdapat banyak ayat yang menjelaskan
tentang siksaan.
Bentuk siksaan yang tersebut antara lain
ada dalam surat AL-Ankabut ayat 40 yang menyatakan: “Masing-masing bangsa itu
kami siksa dengan ancaman siksaan, karena dosa-dosanya. Ada diantaranya kami
hujani dengan batu-batu kecil seperti kaum Aad, ada yang diganyang dengan
halilintar bergemuruh dahsyat seperti kaum Tsamud, ada pula yang kami benamkan
kedalam tanah seperti Qarun, dan ada
pula yang kami tenggelamkan seperti kaum
Nuh. Dengan siksaan itu, Allah tidak menganiaya mereka, namun mereka
jugalah yang menganiaya diri mereka sendiri , dengan dosa-dosanya”
Berbicara tentang siksaan terbayang dibenak
kita sesuatu yang sangat mengerikan, bahkan mungkin menderikan bulu kuduk kita.
Betapa tidak, didalam benak kita terbayang seseorang yang tinggi besar, kokoh
dan kuat dengan muka yang seram sedang memegang cemeti yang siap mencabuk
kepada orang yang disiksa. Atau orang memegang besi yang sudah dipanaskan ujungnya
sampai berwarna merah dan siap ditempelkan ketubuh orang yang disiksa. Semua
itu dengan maksud agar orang yang disiksa itu memenuhi permintaan penyiksa atau
perbuatan balas dendam.
Siksaan tidak dapat dipisahkan dengan
kehidupan manusia. Setiap manusia pernah atau akan merasakannya. Siksaan juga
tidak dapat dipisahkan oleh dosa-dosa manusia. Siksaan yang berhubungan dengan
dosa adalah siksaan di Hari Kiamat.
Kita dapat menilai diri kita sendiri,
dimana kita berdiri, dimana kita berpihak, dan sejauh mana ketakwaan kita
kepada Tuhan.
4. Makna Rasa Sakit
Rasa sakit adalah rasa yang tidak enak bagi sipenderita. Rasa sakit
akibat menderita penyakit, atau sakit. Sakit kepala akibatnya terasa sakit
kepalanya (pusing). Sakit hati akibatnya hatinya terasa sakit. Sakit cinta
akibatnya hati selalu dirundung rasa ingin bertemu dengan orang yang dicintai,
dan lain-lain.
Penyakit atau sakit dapat menimpa setiap makhluk hidup. Kaya miskin,
besar kecil, tua muda, bila telah tertimpa , orang bodoh atau pintar , bahkan professor
pun tidak dapat menghindarinya.
Rasa sakit atau penyakit tidak dapat dihindari dari kehidupan
sehari-hari. Menderita penyakit tidak direncanakan, dating begitu saja,
sedangkan manusia hanya dapat berikhtiar menyembuhkan.
Orang merasa sakit, dan karena orang merasa sakit orang itu menderita.
Dan penderitaanlah yang dialaminya. Siksaan adalah rangkaian peristiea yang
tidak dapat dipisahkan merupakan rentetan sebab akibat.
Rasa banyak hikmahnya, antara lain dapat mendekatkan diri kepada Tuhan,
dapat menimbulkan rasa kasihan terhadap penderita, dapat membuka rasa
keprihatinan manusia, rasa sosial, dermawan, dan sebagainya.
Tiap rasa sakit atau penyakit pasti ada penyembuhnya atau obat. Hanya
tergantung kepada penderita, apa ada usaha atau tidak dalam menyembuhkan
penyakitnya. Bagi yang berusaha sungguh-sungguh dengan disertai doa, maka Tuhan
akan membantu dan mengambulkan doanya.
5. Neraka
Neraka sering dihubungkan dengan kematian. Neraka sesudah mati dibahas
oleh para agama. Penderitaan dalam hidup yang sering pula dikatakan NERAKA
DUNIA.
Berbicara mengenai neraka, maka
tentu kita ingat terhadap dosa. Dan juga terbayang jelas diingatan kita.
Tergambar pula ingatan kita suatu rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa.
Sudah jelas bahwa neraka merupakan tempat manusia disiksa karena
dosa-dosanya, dan manusia pasti akan mengalami rasa sakit dan penderitaan yang
sangat luar biasa melebihi penderitaannya dibumi.
Manusia masuk neraka karena dosa. Oleh karena itu, bila kita bicara
tentang neraka tentu akan berkaitan dengan dosa. Dan dosa ialah
kesalahan-kesalahan manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak lepas darin kesalahan.
Kesalahan itu sengaja atau tidak, tetap salah dan akan mendapatkan hukuman itu
sesuai dengan kesalahannya. Siapa yang menghukum tergantung pada kesalahan
tersebut.
Selain itu banyak media massa yang mengkomunikasikan penderitaan yang
hebat membuat pilu dan haru pembacanya, sehingga banyak orang yang mengulurkan
tangan ingin meringankan beban penderitannya sesama.
6. Sumber Penderitaan
a.
Hakikat Manusia
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk hidup yang memiliki kepribadian
yang tersusun dari perpaduan dan saling hubungan dan pengaruh mempengaruhi
antara unsur-unsur jasmani, rohani, dank
arena itu penderitaan dapat pula terjadi pada tingkat jasmani maupun rohani.
Jasmani disebut juga sebagai tubuh, badan, jasad, materi, wadah. Jasmani
merupakan unsure yang hidup pada pribadi manusia. Didalam jasmani manusia ada
dua unsure yang selalu berhubungan, yaitu otak dan panca indera. Didalam otak
ada berbagai pusat kemampuan manusia. Panca indera merupakan alat atau jendela
atau pintu tubuh manusia sehingga manusia mampu menerima dan menangkap segala
sesuatu hal.
Rohani sering disebut dengan istilah lain seperti misalnya jiwa, badan halus,
dan mind merupakan unsur yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari rohani menjiwai, mendasari, dan memimpin unsur-unsur
pribadi manusia.
b. Dorongan memenuhi kebutuhan sebagai sumber
penderitaan
Dalam rangka memenuhi kebutuhan ini mungkin saja terjadi bahwa tujuan,
ialah sesuatu dengan yang dikehendaki. Tetapi mungkin pula sesuatu yang
diingini itu tidak tercapai. Jika tujuan yang diingini itu tercapai maka yang
didapat dan dirasakan adalah kepuasan, kegembiraan atau kesenangan. Jika
sebaliknya yang terjadi, maka yang
didapat adalah penyesalan, kesedihan dan penderitaan. Bagaimana kualitas
perasaan yang timbul akibat upaya pencapaian tujuan ini, kiranya akan mengikuti
skala pencapaian tujuannya. Makin dekat dengan tujuan yang dicapai,makin dalam
perasaan kegembiraan yang dirasakan. Makin jauh tujuan yang ingim dicapai maka
yang didapat juga makin tipis rasa kegembiraannya.
7. Pengaruh Penderitaan
a. Pengaruh Negatif
Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh
bermacam-macam sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap
negative, misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, atau ingin
bunuh diri.
b. Pengaruh Positif
Orang yang mengalami penderitaan mungkin juga akan memperoleh sikap
positif dalam dirinya. Sikap positif adalah sikap optimis mengatasi penderitaan
hidup, bahwa hidup bukan hanya rangkaian penderitaan, melainkan juaga
perjuangan membebaskan diri dari penderitaan. Penderitaan hanyalah bagian dari
kehidupan yang dapat member pengalaman memecahkan masalah untuk mencapai esok
yang lebih sejahtera. Hidup tanpa penderitaan samalah dengan gelombang datar
ditengah lautan. Sikap positif atau optimis biasanya kreatif dan produktif,
tidak mudah menyerah pada keadaan.
c. Penilaian Masyarakat
Apabila sikap negative dan sikap positif dari penderitaan dikomunikasikan
kepada masyarakat, masyarakat akan memberikan penilaiannya. Penilaian itu dapat
berupa kemauan atau kesediaan untuk mengadakan perubahan nilai-nilai
kemanusiaan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan. Nilai-nilai
kemanusiaan yang sudah tidak sesuai di tinggalkan dan diganti dengan
nilai-nilai kemanusiaan yang lebih kondusif dengan kondisi masyarakat.
Nilai-nilai kemanusiaan yang berupa hambatan-hambatan harus disingkirkan.
Berdasarkan uraian dalam pembahasan diatas dapat diinventarisasi nilai-nilai
kemanusiaan yang dirasakan sebagai hal yang sudah using, antara lain: kawin
paksa, ketidakseimbangan status, fungsi, serta peran suami dan istri dalam
keluarga.
8. Upaya Menghindari Diri dari Penderitaan
Manusia hendaknya percaya dengan mutlak kepada Tuhan yang Maha Esa. Hanya
Tuhan lah yang menentukan kehidupan manusia, yang mampu menciptakan keajaiban
diluar pikiran manusia, hanya Tuhan lah yang maha kuasa, Maha pengasih dan Maha
penyayang.
Manusia hendaknya dalam perjuangan hidup selalu teguh dalam pikiran dan
pendirian, waspada dalam membela cita-cita, dan penuh dengan kesadaran lahir
dan batin. Orang hendaknya selalu tidak mudah terpengaruh oleh kondisi
lingkungan yang tidak sehat.
Manusia hendaknya giat bekerja
untuk mencapai kebahagiaan baik untuk
dirinya sendiri, masyarakat, keluarga, negara dan bangsa. Jadi walaupun diakui
bahwa takdir itu ada, manusia harus tetap berikhtiar. Hal ini sesuai pula
dengan ajaran agama islam yang mengatakan bahwa “sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka sendiri mengubah keadaannya.
Manusia hendaknya selalu mengukur kekuatan diri sendiri dalam upaya memnuhi
kebutuhan hidupnya. Orang yang dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup tidak mau
mengukur atau tidak mau menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki, maka orang
itu akan menjadi badak”hawa nafsunya” sendiri. Orang yang dalam kondisi semacam
ini, pikirannya, kehendaknya, dan perasaannya sudah tidak mampu member
pertimbangan. Orang seperti ini senntiasa akan terus – menerus mengikuti hawa
nafsu tersebut, ia tidak pernah merasa puas, dan ia akan menderita.
SUMBER
Buku Ilmu Budaya Dasar karangan Drs. Joko Tri Prasetya, dkk , penerbit:
Rineka Cipta, Jakarta 2013
Buku
Ilmu Sosial Budaya Dasar , karangan: Prof. Abdulkadir Muhammad, S.H. , penerbit
: PT CITRA ADITYA BAKTI, Bandung 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar